Minggu, 13 Mei 2012

Makalah Upaya Pelestarian Orangutan di Kalimantan



MAKALAH
GEOGRAFI LINGKUNGAN DAN SUMBER DAYA
“UPAYA PELESTARIAN ORANG UTAN”
  


 DOSEN PENGAJAR :
ELLYN NORMELANI,  M.Pd


Oleh :
DESY LAILATUL FITRIA
A1A510292
Kelas: B



POGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2012







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Orangutan merupakan satu-satunya dari empat taksa kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya yang lain, yaitu; gorila, chimpanzee dan bonobo hidup di benua Afrika. Terdapat dua jenis orangutan, yaitu orangutan Sumatra (Pongo abelii) yang penyebarannya terbatas pada bagian utara Sumatera dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), yang masih terdapat di beberapa tempat yang merupakan kantong-kantong habitat di Sabah dan Sarawak terutama di daerah rawa gambut serta hutan dipterokarp dataran rendah di bagian barat daya.          Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), serta sebelah timur Sungai Mahakam ke arah utara (provinsi Kalimantan Timur dan Sabah). Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam konservasi orangutan di dunia, karena sebagian besar populasi orangutan yang masih bertahan hidup hingga saat ini berada di wilayah Republik Indonesia.
            Diketahui bahwa jumlah populasi orangutan liar telah menurun secara kontinyu dalam beberapa dekade terakhir akibat semakin berkurangnya hutan-hutan dataran rendah dan dalam beberapa tahun belakangan ini penurunan populasi yang terjadi cenderung semakin cepat. Masih terjadinya perburuan dan perdagangan orangutan, termasuk untuk diselundupkan ke luar negeri juga memberikan kontribusi terhadap penurunan populasi orangutan liar di alam. Hilangnya habitat dan perburuan serta perdagangan masih merupakan ancaman utama terhadap keberlangsungan hidup orangutan di Indonesia.                                                                               Pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan orangutan dan habitatnya dengan mengeluarkan berbagai peraturan perundangan serta mengembangkan berbagai program kemitraan dengan sektor lain dan pemangku kepentingan lainnya. Bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk para ahli orangutan nasional maupun internasional, pemerintah juga telah menyusun Strategi dan Rencana. Aksi Konservasi Orangutan 2008 – 2017 untuk mendukung upaya konservasi orangutan. Dimasa mendatang, sektor industri kehutanan seperti HPH, sawit dan hutan tanaman diharapkan dapat berperan lebih banyak untuk mendukung upaya konservasi orangutan yang terdapat di area konsesi mereka.
            Perubahan iklim di masa mendatang, diperkirakan akan menjadi ancaman serius terhadap konservasi orangutan, terutama pada aspek ketersediaan sumber pakan akibat terganggunya sistim perbungaan dan perbuahan pohon yang menjadi sumber pakannya karena adannya kenaikan suhu dan curah hujan. Ancaman lain adalah hilang serta rusaknya habitat akibat terjadinya kebakaran hutan yang dipicu oleh gejala perubahan iklim. Kebakaran hutan tahun 1997/1998 yang diketahui dipicu oleh gejala El Nino telah menjadi pemicu menurunnya kualitas habitat orangutan serta menimbulkan banyak korban orangutan dalam jumlah yang signifikan. Gejala perubahan iklim pada periode tahun itu juga diketahui telah mempengaruhi pola perbungaan dan perbuahan pohon hutan di hutanhutan Kalimantan, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan berbagai jenis satwa.












B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja kerusakan habitat orangutan yang disebabkan oleh manusia?
2.      Bagaimana cara menyelamatkan habitat orangutan agar tidak punah?
3.    Bagaimana peran orangutan dalam ekosistem?
4.    Bagaimana cara menyelamatkan habitat orangutan agar tidak punah ?


C.     Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui peran orangutan dalam ekosistem.
2.      Untuk mengetahui kerusakan habitat orang utan.
3.      Menyadarkan ke semua pihak untuk menyelamatkan habitat orangutan yang terancam punah.
4.     Untuk mengetahui            cara menyelamatkan habitat orangutan agar tidak punah.                                         











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Orangutan Borneo, Pongo pygmaeus
Orangutan di Borneo sebagian besar mendiami hutan dataran rendah dan hutan rawa di Sabah, bagian barat daya Sarawak, Kalimantan Timur, serta bagian barat daya Kalimantan, antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Para ahli mengamati adanya perbedaan yang cukup nyata di antara populasi orangutan di Borneo. Oleh karenanya, populasi orangutan borneo disepakati dibedakan menjadi tiga (3) kelompok geografi atau anak jenis, yaitu:
·    Pongo pygmaeus pygmaeus, di bagian Barat Laut Kalimantan, yaitu utara dari Sungai Kapuas sampai ke Timur Laut Sarawak.
·    Pongo pygmaeus wurmbii, di bagian Selatan dan Barat Daya Kalimantan, yaitu antara sebelah Selatan Sungai Kapuas dan Barat Sungai Barito.
·    Pongo pygmaeus morio, di Sabah sampai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.
Populasi terbesar (sekitar 32.000 individu) dijumpai di hutan gambut di sebelah Utara Sungai Kapuas. Tetapi populasi tersebut tidak berada di dalam sebuah habitat yang berkesinambungan, melainkan tersebar ke dalam berberapa kantong habitat dengan ukuran populasi yang berbeda-beda. Populasi orangutan ini sangat terkait dengan perubahan hutan di Kalimantan. Kerusakan hutan yang cukup tinggi di Kalimantan menyebabkan banyak habitat orangutan yang hilang. Perkiraan jumlah orangutan borneo di berbagai lokasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Perkiraan jumlah orangutan Borneo pada blok habitat Kalimantan
No
Sub Spesies dan Nama Lokasi
Area (km2)
Perkiraan Populasi
Orangutan
A.
Pongo pygmaeus pygmaeus


1
2
3
4
5
Batang Ai (Sarawak)
Lanjak Entimau (Sarawak)
Betung Kerihun
Danau Sentarum
Rawa Kapuas Hulu (Selatan Sungai Kapuas, utara Melawi)
240
1688
4500
1090
T?
119–580
1024-1181
1330–2000
500
?

Total
3000–4500
<7500
B.
Pongo pygmaeus wumbii


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Gunung Palung
Bukit Baka
Bukit Rongga & Parai
Tanjung Puting
Lamandau
Mawas
Sebangau
Ketingan
Rungan Kahayan
Arut Belantikan
Seruyan
Bukit Raya
Sei. Kahayan & Sei. Sambah
Sei. Sambah & Sei Katingan
Sebangau Kahayan
Kahayan Kapuas
Tanjung Keluang
Cagar Alam Pararaum
Cagar Alam B.Spt
900
350
4200
4150
760
5010
5780
2800
2000
5100
3000
500
1500
1000
700
4000
2000
500
>2,000
2,500
175
1000
6000
1200
3500
6900
3000
1000
6000
1000
500
1000
500
700
300
200
>500
>500

Total
>34975
>46250
C
Pongo pygmaeus morio


1
2

3

4

5
6
7

8
Taman Nasional Kutai
DAS Lesan (termasuk Hutan Lindung Sungai Lesan)
DAS Kelai (incl. Gunung Gajah, Wehea, dan beberapa areal HPHs
Sangatta – Bengalon & Muara Wahau

DAS Segah
Samarinda, Muara Badak, Marang Kayu 
Pegunungan Kapur Sangkulirang/Mangkalihat
Rawa Sebuku/Sembakung
750
500

4000

sangat
terfragmentasi
3500
300+
1,500

500
600
400

2500

175

100
200
750

100

Total
10750
4825

Gambar 3.
Orangutan Kalimantan Tengah Laju deforestasi di daerah hutan tropis menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup tumbuhan dan satwa, termasuk orangutan. Habitat orangutan di luar kawasan konservasi dan kawasan lindung di Kalimantan Barat perlu mendapat perhatian serius. Laju deforestasi Asia diperkirakan sudah mencapai kisaran 30 persen,” kata Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kalimantan Barat Lensus Kandri di Pontianak. kemarin. “Tingginya laju deforestasi atau penggundulan hutan itu menjadi ancaman bagi orangutan.
Sejumlah populasi orangutan di Kalimantan Barat memiliki habitat di luar kawasan konservasi dan kawasan lindung, sehingga rentan terhadap gangguan yang ditimbulkan deforestasi. Saat ini, dari total kawasan hutan di Kalimantan Barat terdapat sekitar 1,15 juta hektare lahan yang diperuntukkan sebagai kawasan taman nasional dan hutan lindung. Sementara kawasan hutan produksi dan areal penggunaan lain yang masih berhutan memiliki persentase sekitar 72,56 persen dari total kawasan hutan di Kalimantan Barat.
Orangutan tidak memiliki KTP, sehingga primata ini tidak mungkin dilarang memasuki area kegiatan manusia,” kata Lensus. “Saya harap semua pihak swasta di Kalimantan Barat ikut menjaga ekosistem orangutan yang berada di sekitar izin usaha yang dimilikinya.” penyusutan kawasan hutan di dataran rendah dan perburuan orangutan di Kalimantan menempatkan satwa yang merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia ini masuk dalam daftar merah IUCN tahun 2007 pada posisi terancam punah. IUCN adalah badan dunia yang memantau tingkat keterancaman jenis secara global. Sinergisitas peran stakeholder, baik pemerintah pusat maupun daerah, lembaga pendidikan, swasta, dan masyarakat harus dibangun,” kata Djohan usai mengikuti Pertemuan Konservasi Orangutan Regional Kalimantan Barat di Pontianak, beberapa waktu lalu. Jika komitmen tersebut sudah terbangun, strategi dan rencana aksi dapat menjadi panduan dalam upaya pelestarian orangutan. Langkah itu dinilai perlu diprioritaskan, terpadu, dan melibatkan semua pihak sehingga pembangunan di daerah bisa selaras dengan upaya pelestarian orangutan.
Di Kalimantan Barat terdapat dua subspesies orangutan, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii yang saat ini kondisinya sangat mengkhawatirkan. Orangutan tersebar di sembilan kabupaten di Kalimantan Barat. Populasi orangutan tersebar dalam kantong-kantong habitat dengan ukuran populasi yang bervariasi, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun yang diperkirakan sebesar 1.330-2.000 individu, Danau Sentarum 500 individu, Bukit Baka Bukit Raya 175 individu, Gunung Palung 2.500 individu, Bukit Rongga serta Parai 1.000 individu.
potensi ancaman habitat orangutan datang dari kegiatan pertambangan, perkebunan, kegiatan loging baik legal maupun illegal, kebakaran hutan serta terbatasnya stasiun riset untuk orangutan. "Untuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara saja ada 90 izin perkebunan dan 140 izin pertambangan yang diterbitkan," ucap Tito. untuk menjaga habitat orangutan yang berada di luar kawasan konservasi dan kawasan lindung perlu adanya kerja sama oleh semua pihak baik itu pemerintah, NGO, pihak swasta, maupun masyarakat. Pihak perusahaan harus menjaga kelestarian kawasan yang miliki Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di wilayah konsesi mereka, seperti yang dilakukan PT Kayung Agro Lestari (KAL). 
Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terletak 45 kilometer dari Kota Ketapang itu telah mengalokasikan sebagian areal perkebunan untuk konservasi. “Kami telah mengalokasikan 1.640 hektare sebagai wilayah konservasi atau 17 persen dari 9.339 hektare luas wilayah konsesi yang dimiliki perusahaan

B.     Peran Orangutan Dalam Ekosistem
Orangutan sebagai spesies kunci menjadi indikator kelangsungan dan pertahanan ekosistem. Membantu menyebarkan biji-bijian tumbuhan hutan. Saat makan buah, mereka meludahkan biji. Biji ini jatuh ke dasar hutan dan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Dengan kawasan jelajah orangutan betina 800-1500 ha dan bahkan mencapai 4000 ha untuk jantan serta masa hidup yang panjang lebih 50 tahun membantu pelestarian keanekaragaman hayati asli di dalam area jelajahnya.

C.    Populasi Orang utan Kalimantan                                                               
keberadaan orangutan di TNK yang menyukai daratan "alluvial" atau daerah aliran sungai dan hutan rawa gambut, kini kian terdesak seiring pembukaan hutan untuk perkebunan.
Yang menjadi masalah karena pemanfaatan lahan kini makin meluas untuk aktivitas sosial, ekonomi dan budaya manusia umumnya, sehingga berakibat fatal bagi orangutan dengan menyempitnya daerah sebaran mereka
Prof Anne adalah peneliti asal Kanada yang telah bertahun-tahun melakukan penelitian orangutan di Camp Bendili Mentoko Kutai Timur, kawasan TNK. , kecenderungan dari perubahan tutupan hutan yang berada di TNK dan sekitarnya yang semakin lama semakin sedikit ditambah dengan konflik orangutan dengan manusia yang semakin meningkat perlu segera dicegah.Karena itu, penting kiranya untuk mengetahui perilaku, sebaran dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menjaga dan melestarikan populasi orangutan di TNK. Saat ini jenis kera besar ini hanya bisa ditemui di Sumatera dan Borneo Kalimantan, 90 persen ada di Indonesia. Sebanyak 70 Persen berada di areal perkebunan, sisanya di TNK, cagar Muara Kaman Kukar, Sungai Wain Balikpapan hasil konservasi.
            Beberapa perusahaan yang peduli pelestarian Orangutan yakni Surya Hutani, KPC, Teladan di bawah koordinasi balai Konservasi SDA Kaltim.  "Padahal dulu kurang dari 20.000 tahun yang lalu orangutan dapat dijumpai di seluruh Asia Tenggara, dari Pulau Jawa di ujung selatan sampai ujung utara Pengunungan Himalaya dan Cina bagian selatan, Kerusakan habitat orangutan disebabkan oleh penebangan dan pembukaan hutan untuk dijadikan lahan pertanian, perkebunan, pertambangan dan pemukiman merupakan ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup Orangutan. Populasi orangutan yang semula tersebar luas, kini terpencar ke dalam kantong-kantong populasi berukuran kecil dengan daya dukung habitat yang rendah, sehingga selalu berakhir dengan penyusutan lebih lanjut populasi Orangutan.
Demikian pula yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Kutai, pada tahun 1993 populasi diperkirakan 1.200-2.100 individu berdasarkan data dari Dr Akira Suzuki peneliti orangutan dari Kyoto University Jepang di TNK. Dan tahun 1998 diperkirakan 200-600 individu. Hasil inventarisasi tahun 2010 ditemukan kurang lebih 2.000 individu namun hal ini berarti fragmentasi habitat yang menyebabkan orangutan terkumpul di satu tempat. Kepala TNK ini berharap kepedulian semua pihak terutama upaya pelestarian orangutan di kawasan TNK maupun perusahaan perkebunan hutan tanaman industri disekitarnya terhadap keberadaan Orangutan untuk turut menjaga populasinya agar tidak punah.

D.    Kerusakan Habitat Orangutan Akibat Ulah Manusia
Orangutan menyukai hutan hujan tropis dataran rendah sebagai tempat hidupnya, sehingga perlindungan ekosistem tersebut sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup satwa itu. Meskipun Pemerintah telah membangun sistem kawasan konservasi seluas 6,5 juta hektar di Sumatera bagian utara dan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, upaya pengelolaan kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan di luar taman nasional dan cagar alam tidak kalah pentingnya. Pemanfaatan kawasan hutan, baik untuk industri kayu maupun pertanian, yang tidak memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan terbukti berdampak sangat buruk bagi keberadaan orangutan. Konflik yang terjadi antara orangutan dan manusia di luar kawasan konservasi bahkan tidak jarang merugikan pihak pengusaha dan masyarakat.
Penyusutan dan kerusakan kawasan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan selama sepuluh tahun terakhir telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologis skala besar bagi masyarakat. Bagi orangutan, kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1-1,5% per tahunnya di Sumatera. Jumlah kehilangan habitat di Kalimantan yaitu 1,5-2% per tahunnya, lebih tinggi jika dibandingkan dengan Sumatera. Kerusakan hutan dan habitat orangutan di Kalimantan menyebabkan distribusi orangutan menjadi terfragmentasi di kantong kantong habitat (Revisi PHVA 2004). Nasib orangutan juga diperburuk dengan ancaman perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan, bahkan sebagai sumber makanan bagi sebagian masyarakat. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan tersebut telah menempatkan orangutan sumatera ke dalam kategori kritis/sangat terancam punah (critically endangered) di dalam daftar merah IUCN (2007), sebuah badan dunia yang memantau tingkat keterancaman jenis secara global. Meskipun orangutan di Kalimantan ditempatkan pada posisi terancam punah/endangered, tidak berarti masa depan primata itu lebih cerah dibandingkan kerabatnya di Sumatera. Hanya tindakan segera dan nyata dari semua pemangku kepentingan untuk melindungi orangutan di kedua pulau tersebut yang dapat menyelamatkan satu-satunya kera besar Asia dari ancaman kepunahan.
Pembukaan kawasan hutan merupakan ancaman terbesar terhadap lingkungan karena mempengaruhi fungsi ekosistem yang mendukung kehidupan di dalamnya. Selama periode tahun 1980-1990, hutan Indonesia telah berkurang akibat konversi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman, kebakaran hutan, serta praktek pengusahaan hutan yang tidak berkelanjutan. Pengembangan otonomi daerah dan penerapan desentralisasi pengelolaan hutan pada 1998 juga dipandang oleh banyak pihak sebagai penyebab peningkatan laju deforestasi di Indonesia. Pembangunan perkebunan dan izin usaha pemanfaatan kayu yang dikeluarkan pemerintah daerah turut berdampak terhadap upaya konservasi orangutan.

E.     Upaya perlindungan orang utan di area HPH Kalimantan

 

Saat ini, orang utan Kalimantan terancam kepunahan.The World Conservation Union (IUCN, 2002) mengkategorikan orang utan Kalimantan sebagai spesies yang hampir punah. Ancaman terbesar kepunahannya adalah hilangnya habitat alami orangutan akibat konversi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, maupun perumahan.
Di area konsesi hutan alam anggota GFTN-Indonesia PT Suka Jaya Makmur (SJM) yang terletak di Kalimantan Barat, dengan total area 171,340 hektar, diperkirakan hidup 500 orangutan dari subspesies wurmbii (Pongo pygmaeus wurmbii) dan sarangnya. Sebagian besar orangutan tersebut diyakini datang dari areal bekas konsesi hutan di sekitarnya yang telah terdegradasi akibat pembalakan liar.
GFTN-Indonesia dan program spesies WWF-Indonesia bekerjasama dengan PT SJM mengembangkan rencana manajemen perusahaan untuk menjamin terciptanya harmoni dunia usaha dan orang utan. Pada Januari 2010, GFTN-Indonesia dan tim ahli yang terdiri dari ahli tumbuhan, ahli orang utan, dan staf GIS WWF-Indonesia mengadakan penelitian selama dua minggu di beberapa sarang orang utan di dalam area konsesi PT SJM. Penelitian lapangan yang didukung oleh aktivitas dokumentasi tersebut akan menghasilkan film dokumenter serta rencana manajemen orangutan sebagai bagian program perlindungan HCVF (High Conservation Value Forest), salah satu upaya PT SJM memperoleh sertifikat FSC.
Langkah ini merupakan inisiatif pertama di Indonesia di mana sebuah perusahaan menggabungkan aktivitas konservasi dengan rencana manajemen menuju integrasi konservasi dan produksi. Aktivitas konservasi mencakup perlindungan jenis pohon sumber makanan orang utan dan sarangnya, memastikan area berpopulasi orangutan tinggi bebas dari aktivitas penebangan, serta menjalin kolaborasi dengan SJM untuk mengatasi perburuan di dalam area konsesi.
Ratusan sarang orang utan, baik lama maupun baru, ditemukan di dalam area konsesi selama penelitian berlangsung. Bahkan, tim peneliti juga beruntung bertemu sekawanan orang utan wilayah itu. GFTN-Indonesia dan tim peneliti optimis akan hasil eksplorasi tersebut. Dengan memahami kondisi orang utan dan habitatnya, upaya perlindungan satwa kharismatik Kalimantan tersebut akan lebih mudah dilakukan. Hal tersebut juga mendukung manajemen hutan berkelanjutan tanpa mengganggu aktivitas bisnis PT SJM sehingga mampu mewujudkan harmoni di antara perusahaan dan orang-utan.
Suksesnya proyek percontohan ini akan semakin mendorong upaya konservasi di luar wilayah konservasi serta menjadi fenomena menarik terkini bahwa sebagian besar populasi orang utan justru berada di luar wilayah konservasi. Penelitian tentang orang utan Januari lalu merupakan penelitian pendahuluan dari dua penelitian orang utan lanjutan yang rencananya akan diadakan sepanjang 2010 ini di wilayah yang sama.


F.     Cara Menyelamatkan Habitat Orangutan Agar Tidak Punah


1.      Kebijakan dan Aturan Yang Terkait Dengan Orangutan
Salah satu undang-undang yang sangat penting adalah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, termasuk turunannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Hukum yang dibuat pemerintah ini harus ditegakkan oleh pelaku hukum agar tidak ada penyuapan untuk pembukaan lahan yang merusak atau mengambil alih habitat orangutan agar tidak terjadi konflik antara manusia dan orangutan. Pembantaian dan penjualan orangutan juga harus ditindak secara hukum yang berlaku bagi pihak yang melanggarnya.
2.      Memperbaiki habitat orangutan
Sebagai langkah awal dalam penyelamatan Orangutan dari kepunahan adalah dengan cara menyelamatkan habitatnya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penghentian pembukaan hutan untuk lahan perkebunan sawit, berperang melawan illegal logging, reboisasi, membatasi jarak habitat orangutan dengan pemukiman penduduk dan menggalakkan gerakan tanam seribu pohon.
Mustahil kita melestarikan orangutan tanpa melestarikan habitatnya, karena orangutan adalah satwa liar yang lebih suka hidup di alam bebas dari pada di penangkaran atau di kebun binatang. Penelitian membuktikan orangutan yang tinggal di penangkaran dan karantina umurnya lebih pendek dari orang utan yang hidup di alam bebas. Jadi, rehabilitasi habitat orangutan adalah harga mutlak dalam usaha pelestarian Orangutan.
3.      Konservasi
Jumlah orangutan yang berada di kebun binatang atau taman margasatwa dan taman safari di Indonesia pada tahun 2006 sebanyak 203 individu (Laporan Seksi Lembaga Konservasi, 2007). Standar operasional minimum untuk kebun binatang (zoo minimum operating standards) di Indonesia telah ada dan menjadi keharusan bagi anggota PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia) untuk ditaati. Tetapi proses monitoring dan evaluasi terhadap kebun binatang belum berjalan baik menyebabkan banyak anak orangutan yang dilahirkan di sana tidak mencapai usia dewasa.
Kebun binatang dan taman safari di Indonesia diharapkan bisa lebih berperan dalam konservasi orangutan, dengan lebih meningkatkan program pendidikan dan penyadartahuan masyarakat dan tidak berorientasi bisnis semata. Selain itu, praktik pemeliharaan (husbandry) di seluruh kebun binatang yang ada di Indonesia perlu
ditingkatkan dan dievaluasi secara teratur oleh PKBSI dengan melibatkan para ahli untuk menjamin kualitas pelaporan dan transparansi.
Laporan dari International Studbook of Orangutan in World Zoos (2002) mencatat 379 orangutan borneo, 298 orangutan sumatera, 174 orangutan hibrid, dan 18 orangutan yang tidak diketahui atau tidak jelas asal-usulnya dipelihara di berbagai kebun binatang seluruh dunia. Perlu dicatat bahwa jumlah itu hanya berasal dari kebun binatang yang memenuhi permintaan data dari pemegang studbook yang ditunjuk, sehingga ada sejumlah orangutan lainnya tidak tercatat dan diketahui pasti jumlahnya. Selain membuat kebijakan yang mengatur pengelolaan populasi orangutan di kebun binatang dan taman safari, pemerintah juga sebaiknya mengembangkan sistem pendataan nasional yang diperlukan untuk memantau keberadaan populasi orangutan di berbagai kebun binatang dan taman safari di Indonesia.


BAB III
KESIMPULAN

            Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera  besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat , yang hidup di hutan tropika Indonesia  dan Malaysia , khususnya di Pulau Kalimantan  dan Sumatera .
1.    Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii).
2.    Keturunan Orangutan Sumatera dan Kalimantan berbeda sejak 1.1 sampai 2.3 juta tahun yang lalu.
3.    Subspecies:
v Pembelajaran genetik telah mengidentifikasi 3 subspesies Orangutan Borneo : P.p.pygmaeus, P.p.wurmbii, P.p.morio. Masing-masing subspesies berdiferensiasi sesuai dengan daerah sebaran geografisnya dan meliputi ukuran tubuh.
v Orangutan Kalimantan Tengah (P.p.wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Mereka merupakan subspesies Borneo yang terbesar.
v Orangutan Kalimantan daerah Timur Laut (P.p.morio) mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur. Mereka merupakan subspesies yang terkecil.
v Saat ini tidak ada subspecies orangutan Kalimantan yang berhasil dikenali.
            Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus adalah spesies orangutan  asli pulau Kalimantan  dan merupakan spesies endemik pulau tersebut. Bersama dengan orangutan Sumatera  yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam genus pongo  yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun. Sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Bornean Orangutan. Orangutan kalimantan terdiri atas 3 subspesies yaitu Pongo pygmaeus morio, Pongo pygmaeus pygmaeus, dan Pongo pygmaeus wurmbii.
            Peran Orangutan Dalam Ekosistem; Orangutan sebagai spesies kunci menjadi indikator kelangsungan dan pertahanan ekosistem. Membantu menyebarkan biji-bijian tumbuhan hutan. Saat makan buah, mereka meludahkan biji. Biji ini jatuh ke dasar hutan dan tumbuh menjadi tumbuhan baru.
            Dasar Hukum Dan Perlindungan; CITES (Convention International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) menetapkan orangutan ke dalam kategori hewan Appendix I. IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) menetapkan sebagai satwa sangat terancam punah.  UU No. 5 tahun 1990 (Pemerintah menetapkan hukuman pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) bagi pelaku yang menangkap, membunuh, memperdagangkan dan memiliki orangutan.


















DAFTAR PUSTAKA

Komunitas Biologi Indonesia.com /ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus) DAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii).html
PENDIKS PEDULI BUMI  /Makalah Kerusakan Habitat Orangutan Akibat Ulah Manusia.html
http://www.seruu.com/indonesiana/flora-a-fauna/artikel/populasi-orangutan-kalimantan-kian-terdesak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar